Ary Ginanjar Agustian, Ramadhan Jadikan Proses Menguatkan Mental Pribadi

Ary Ginanjar Agustian Pendidikan Karakter 10

Terhindarnya seseorang dari hawa nafsu pada Bulan Puasa dinilai Ary Ginanjar Agustian akan kian menguatkan dan bukan mengurangi aktivitas. Karena itu, Presiden Direktur PT Arga Bangun Bangsa dan pendiri ESQ Leadership Center ini ingin menjadikan datangnya bulan suci Ramadhan sebagai momentum agar menguatkan aktivitas.

Ary Ginanjar Agustian menganggap bahwa kewajiban untuk menahan diri dari lapar, haus, serta hawa nafsu selama berpuasa, tidak boleh dijadikan sebagai sebuah alasan untuk setiap Muslim yang tengah menjalankannya untuk mengurangi pencaharian sehari-hari. Menurutnya, seseorang dimana sedang menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, berada dalam kondisi yang luar biasa prima.

“Kemudian, seseorang dimana sedang berpuasa juga mengenai menurunkan atau bahkan menekan hawa nafsu yang ia miliki sehingga sudah semestinya seseorang tersebut bisa beraktivitas normal atau bahkan lebih dari aktivitas pada hari biasa, ” tutur pria dimana lebih dikenal publik seperti seorang motivator ini untuk masyarakat

Contoh konkret yang diambil oleh lelaki kelahiran Bandung,ialah pada waktu pukul 12. 00. Pada waktu ini, kata dia, biasanya seorang pekerja akan meluangkan saatnya untuk mencari makan. Kini, pekerja tersebut tidak harus repot mencari makan siang karena sedang berpuasa.

Menurutnya, hal tersebut akan menyajikan aktivitas sehari-hari menjadi bertambah efektif dan seseorang sanggup melanjutkan pekerjaannya setelah mengoperasikan ibadah shalat. Sayangnya, melimpah orang di Indonesia dimana justru menjadikan Ramadhan menjadi alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, khususnya pekerjaannya.

Hal itulah dimana menjadi ketidaksetujuan suami dalam Linda Damayanti itu lantaran masyarakat seakan sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut. Apa lagi, saat ia mengingat segenap kejadian besar, yang bahkan terjadi pada bulan suci Ramadhan, yaitu Perang Badar dan Kemerdekaan Republik Dalam negri. “Ramadhan bukan sebuah reason untuk mengurangi aktivitas, malah Ramadhan akan menguatkan kegiatan kita, ” ujarnya.

Lulusan Universitas Udayana Bali ini memaknai Ramadhan sebagai seorang rangkaian panjang yang tak terpisahkan untuk pembangunan pokok. Makna dari bulan suci Ramadhan tersebut, menurut Ary Ginanjar Agustian, juga sesuai dengan dimana diperintahkan oleh Rasulullah, yaitu membangun akhlak, sehingga apa yang didapatkan dari seseorang setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan nanti merupakan karakter diri yang fitri.

Maka itu, pria yang juga sempat menimba ilmu di Tafe College Sydney tersebut menegaskan kalau bulan suci Ramadhan tidak semata-mata tentang ritual berpuasa atau menahan lapar, haus, kemudian hawa nafsu, tetapi jua sebagai momentum untuk membentuk dan membangun karakter sendiri yang indah dan fitri. Pria yang sudah dimulai berpuasa sejak di bangku sekolah dasar itu pun menyayangkan jika seseorang semata-mata memaknai Ramadhan sebagai routine.

Pengalaman menjalani bulan suci Ramadhan di Makkah, belasan tahun yang lalu, sebagai Ramadhan yang paling berkesan bagi pria yang akan mengajar mata kuliah taktik pendidikan karakter di Universitas Negeri Yogyakarta tersebut. Saking berkesannya, selama 10 setahun belakangan, ia selalu berupaya meluangkan tenaga dan durasi untuk menjalankan ibadah puasa pada awal Ramadhan di dalam Makkah.

Mendekatkan diri pada Allah SWT, mendirikan shalat Tarawih, menjalankan puasa, serta berusaha menyucikan hati benar di depan Ka’bah, memerankan momen yang paling berkesan bagi perancang konsep The actual ESQWAY 165 tersebut. Bervariasi alasan yang membuatnya sering ingin kembali ke Tanah Suci tersebut, ditambah jadi karena ia bisa berlimpah fokus dalam beribadah lantaran merasa lebih dekat dengan Allah SWT.

Meski begitu, penyuka timun suri di sini. menyebut kalau Ramadhan 1 tahun ini memang menjadi tantangan yang berat, baik lewat ekonomi maupun sosial. Situasi itu disebabkan kondisi masyarakat yang sedang dirundung beragam masalah, di antaranya, persoalan narkoba dan buruknya meaning atau karakter dari setiap individu. Maka itu, Ary berharap agar nilai-nilai dalam ada dalam diri orang mampu menghadapi permasalahan tersebut.

Ary juga memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai energy spesial bersama keluarga serius melaksanakan shalat Tarawih. Ia selalu berusaha meluangkan durasi untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di rumah bersama-sam anak dan istrinya. Momen istimewa lainnya bersama keluarga yang ia rasakan ketika bulan suci Ramadhan adalah menikmati santap sahur berbareng yang dianggapnya sebagai kesempatan terbaik selama sepanjang setahun.

Peraih penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2005 tersebut pula mengimbau umat Islam agar tidak menyia-nyiakan Ramadhan, kecuali untuk menghasilkan karakter sendiri yang lebih baik sebagai orang. Baginya, Ramadhan adalah harapan latihan yang diberikan oleh Tuhan yang wajib dimanfaatkan sebagus mungkin karena tidak banyak jaminan kalau seseorang itu bisa bertemu dengan Ramadhan pada waktu yang mengenai datang.